Workshop nasional peningkatan kapasitas Pemda dalam penanggulangan flu burung dan penyakit zoonosis se-Kalimantan


Pertemuan ini merupakan upaya bersama Sekretariat Komnas FBPkah koordinasi, Kelompok
Kerja Regional (KKR) Komnas FBPI wilayah Kalimantan, dan Pemerintah Daerah Kalimantan
Barat untuk meningkatkan langkah koordinasi penanganan flu burung dan kesiapsiagaan
menghadapi pandemi influenza sekaligus mengantisipasi paska berakhirnya masa bhakti
Komnas FBPI tahun 2010.

Melalui pertemuan ini, merupakan forum penyegaran materi dan koordinasi kelembagaan
se-Kalimantan menuju wilayah pembebasan wilayah dari flu burung. Dalam hal ini
untuk memprakarsai Kalimantan Barat bebas flu burung.

Pembebasan wilayah perlu dideklarasikan. Secara politis, ekonomi, dan kesejahteraan sosial
akan memberikan hal positif untuk kemajuan daerah.

Syarat-syarat pembebasan wilayah Kalimantan Barat dari flu burung didukung oleh hasil
pemantauan bahwa wilayah dimaksud tidak dilaporkan kasus flu burung untuk jangka waktu
yang cukup lama.

Kutipan-kutipan terbaik tentang H1N1 tahun 2009 dari media Kanada

Quotes from newsroom voters who picked top Canadian news story in 2009
Some quotes from voters who took part in The Canadian Press survey that chose the H1N1 flu pandemic as Canada's top news story for 2009:
"The H1N1 flu scare is almost more famous for the way it was handled by the media than how it spread wildly across the country." Victor Krasowski, news director, CJUK-CKTG, Thunder Bay, Ont.
-
"It was a coast-to-coast story that people followed with interest no matter where they lived in Canada." Lesley Sheppard, managing editor, the Times-Herald, Moose Jaw, Sask.
-
"The H1N1 situation, while abated, still has many people on pins and needles. We run frequent updates and the public asks for more!" Peter Lapinskie, managing editor, the Daily Observer, Pembroke, Ont.
-
"Everyone was talking about H1N1, whether you got the shot or not." Scott Metcalfe, news director, 680News, Toronto
-
"Note that in Saskatchewan, H1N1 has killed 12, all with pre-existing conditions. Meanwhile, drunk drivers continue to kill more than the flu, and nobody gives a damn." Vern Faulkner, managing editor, the Daily Herald, Prince Albert, Sask.
-
"From junior hockey players in Sarnia, Ont., jumping the (flu-shot) queue to the death of 13-year-old Evan Frustaglio, no other Canadian story this decade, let alone this year, created such feelings of anger, fear and apathy among Canadians. It also begged the question: Is our government able to handle a major catastrophe?" James M. Miller, managing editor, the Daily Herald, Penticton, B.C.
-
"The way health organizations spun this issue, I expected people to be falling dead in the street. It didn't happen and once again the so-called experts got it wrong when it comes to a new virus hitting people. You can only cry wolf so many times before the public stops listening to your warnings. Or maybe people already have. Despite all the fear-mongering by health organizations, a large number of people have not bothered to get inoculated. You can count me among that group." Rocco Frangione, news director, CFXN FM, North Bay, Ont.
-
"Initially, what a mess! But we seem to have come out of this thing better than expected. If nothing else, we're prepared for the third wave." Gerry Phelan, corporate news director, VOCM, St. John's, N.L.
-
"There isn't a Canadian out there that isn't affected by or interested in the virus and how in may affect their families." Sandy Heimlich-Hall, assistant news director, CFJC-TV/B100/CIFM, Kamloops, B.C.

Source: Yahoo News By The Canadian Press

Comparing deaths from pandemic and seasonal influenza

Pandemic (H1N1) 2009 briefing note 20

22 DECEMBER 2009 GENEVA -- Efforts to assess the severity of the H1N1 influenza pandemic sometimes compare numbers of confirmed deaths with those estimated for seasonal influenza, either nationally or worldwide. Such comparisons are not reliable for several reasons and can be misleading.

Numbers of deaths for seasonal influenza are estimates. They use statistical models designed to calculate so-called excess mortality that occurs during the period when influenza viruses are circulating widely in a given population.

Estimates using all-cause mortality

The models use data, as recorded in death certificates and medical records, indicating mortality from all causes, and compare the number of deaths during epidemics of seasonal influenza with baseline data on deaths during the rest of the year. The assumption is that infections with influenza viruses contribute to the “excess mortality” observed during the influenza season.

During epidemics of seasonal influenza, around 90% of deaths occur in the frail elderly, who often suffer from one or more chronic medical conditions. Although influenza can worsen these conditions and contribute to death, testing for influenza viruses is not done in most cases, and deaths are usually attributed to an underlying medical condition.

Methods for estimating excess mortality were introduced in the 19th century to capture these influenza-associated deaths that would otherwise be missed. Such estimates have helped counter assumptions that influenza is a mild illness that rarely kills.

Laboratory-confirmed deaths

In contrast, numbers of deaths from pandemic influenza, as notified by national authorities and tabulated by WHO, are laboratory-confirmed deaths, not estimates. For several reasons, these numbers do not give a true picture of mortality during the pandemic, which is unquestionably higher than indicated by laboratory-confirmed cases.

As pandemic influenza mimics the signs and symptoms of many common infectious diseases, doctors often do not suspect H1N1 infection and do not test. This is especially true in developing countries, where deaths from respiratory diseases, including pneumonia, are common occurrences. Moreover, routine testing for pandemic influenza is costly and demanding, and beyond the reach of most countries.

When testing confirms H1N1 infection in patients with underlying medical conditions, many doctors record these deaths as due to the medical condition, and not to the pandemic virus. These cases are also missed in official statistics.

As recent studies have shown, some tests for H1N1 infection are not entirely reliable, and false-negative results are a frequent problem. Accurate test results further depend on how and when samples were taken. Even in the best-equipped hospitals, doctors have reported seeing patients with distinctive and virtually identical disease profiles, yet only some have positive test results.

Moreover, in a large number of developing countries, systems for vital registration are either weak or non-existent, meaning that most deaths are neither investigated nor certified in terms of the cause.

Younger age groups

Comparisons of deaths from pandemic and seasonal influenza do not accurately measure the impact of the pandemic for another reason. Compared with seasonal influenza, the H1N1 virus affects a much younger age group in all categories – those most frequently infected, hospitalized, requiring intensive care, and dying.

WHO continues to assess the impact of the influenza pandemic as moderate. Accurate assessments of mortality and mortality rates will likely be possible only one to two years after the pandemic has peaked, and will rely on methods similar to those used to calculate excess mortality during seasonal influenza epidemics.

Source: WHO

Cerita Gambar dari Simulasi Respon Pandemi (Wabah) Flu, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, 17 Desember 2009

Tim verifikasi kesehatan pelabuhan merespon laporan
bahwa ada penumpang kapal roro yang
terjangkit flu mematikan

Tim verifikasi melakukan tatalaksana penanganan pasien
di dalam kapal roro

Penyiapan pasien untuk dipindahkan ke kapal rumah sakit

Proses pemindahan pasien

Kapal rumah sakit yang menjadi tujuan pemindahan
pasien untuk penanganan lebih lanjut

Pasien telah sampai di kapal rumah sakit

Penanganan pasien di dalam kapal rumah sakit

Koordinasi di pelabuhan untuk mengantisipasi hal-hal
seperti logistik, keamanan, sumber daya, dll diikuti
oleh instansi multi sektor di pelabuhan

Foto oleh: Habibie Yukezain (Staf Komunikasi Komnas FBPI)

Simulasi Respon Pandemi Multisektor Penanggulangan Pandemi Influenza Surabaya, 17 Desember 2009

Lembar Informasi/Fact Sheet: Simulasi Respon Pandemi Multisektor Penanggulangan Pandemi Influenza Surabaya, 17 Desember 2009

Latar Belakang:
Dunia telah mengalami tiga kali pandemi influenza (1918, 1957, 1968) dan sekarang sedang mengalami pandemi influenza keempat (Influenza A H1N1). Pandemi merupakan sesuatu yang tidak bisa diperkirakan waktu terjadinya, tersebar secara global, berdampak multi sektor, sehingga perlu belajar dari pengalaman masa lalu.

Pengalaman dengan kejadian pandemi influenza yang lalu menunjukkan bahwa dampak pandemi influenza tidak hanya terhadap aspek kesehatan, berupa meningkatnya angka kesakitan dan kematian, namun juga terhadap aspek sosial, berupa meningkatnya keresahan masyarakat, serta terhadap aspek ekonomi, berupa kelumpuhan sarana dan prasarana ekonomi. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipatif perlu diambil, kemudian dituangkan kedalam suatu rencana aksi yang meliputi rencana kesiapsiagaan dan respon menghadapi pandemi. Komnas FBPI telah membuat pedoman tersebut, yang diberi nama Pedoman Nasional Kesiapsiagaan dan Respon Menghadapi Pandemi Influenza. Komnas FBPI berharap bahwa masing-masing pemangku kepentingan dapat menyusun rencana aksinya sendiri, yang dapat mereka gunakan sebagai acuan dalam mempertahankan kelancaran layanan sosial dan bisnis saat pandemi terjadi.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan bahwa dunia berada dalam fase enam pandemi influenza A (H1N1) 2009. Berdasarkan data WHO 29 November 2009, 207 negara telah terkonfirmasi dan 8.768 meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan Departemen Kesehatan tanggal 4 September 2009, 25 propinsi terkonfirmasi terinfeksi dengan 1.097 kasus dan 10 meninggal dunia.

Surabaya, selain ibukota propinsi dan perbatasan daerah, merupakan daerah industri dan perdagangan, sehingga menjadi daerah yang strategis baik dari sisi ekonomi maupun territorial. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlangsungan kegiatan yang ada, pemerintah memandang perlunya seluruh sektor di kota Surabaya siap untuk merespon pandemi influenza.
Untuk menguji kesiapan dan respon seluruh sektor dalam penangulangan pandemi influenza, Komnas FBPI mengadakan Simulasi Respon Pandemi Multisektor Penangulangan Pandemi Influenza di Pelabuhan Utama Tanjung Perak Surabaya pada 17 Desember 2009.

Tujuan:
* Meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi pandemi influeza yang melibatkan seluruh sektor mulai di level lapangan sampai pemangku kepentingan dengan menguji coba Pedoman Nasional Kesiapsiagaan dan Respon Menghadapi Pandemi Influenza di tingkat daerah.
* Menguji langkah tindak dari pemangku kepentingan agar mampu membangun kesiapsiagaan dan bertindak dalam merespon pandemi influenza: Menguji jejaring kesiapsigaan; Menguji strategi pencegahan, respon dan pembatasan penyebaran pandemi Influenza; Untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan multisektor di daerah dalam penanggulangan pandemi influenza; Untuk menguji coba jalur koordinasi dan komunikasi di tingkat daerah dalam merespon pandemi influenza.

Sasaran:
* Petugas lapangan mampu melakukan tugasnya dalam rangka respon pandemi influenza sesuai prosedur tetap yang ada ditiap instansi.
* Pengambil kebijakan mampu melakukan komunikasi dalam respon pandemi influenza.

Waktu dan Tempat:
17 Desember 2009, 08.00 WIB - Selesai, Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

Pelaksana Kegiatan:
* Penyelenggara : Komnas FBPI, Kelompok Kerja Regional IV Surabaya, dan TNI Angkatan Laut.
* Pelaku Pelabuhan: TNI AL Armada Timur, Marinir AL, RSAL dr. Ramelan, Kantor Kesehatan Pelabuhan. ASDP, KPPP, Imigrasi, Ditjen Bea Cukai, PELNI, KPLP.

Agenda:
* 08.00 - 08.20: Pembukaan (Ketua Pelaksana Simulasi, Walikota Surabaya, Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI) di Lapangan Utama Simulasi
* 08.20 - 11.00: Simulasi Pandemi

Skenario:
Simulasi dilakukan dengan mengujicobakan Pedoman Nasional Kesiapsiagaan dan Rencana Respon Menghadapi Pandemi Influenza di tingkat nasional dan daerah terutama pada jalur komunikasi dan koordinasi. Skenario simulasi dititikberatkan pada situasi pandemi fase enam yaitu mitigasi dampak flu mutasi ganas. Sedangkan fokus kegiatan simulasi adalah koordinasi multi sektor dengan pengetatan pengawasan di pintu masuk, penanganan kasus di kapal dan rumah sakit oleh tenaga kesehatan pelabuhan dan daerah.

Garis besar materi yang akan diuji coba dalam simulasi ini adalah:
* Intervensi non farmasi
* Perimeter/karantina wilayah
* Komunikasi risiko
* Keberlangsungan pelayanan esensial
* Pengamanan instalasi vital
* Pengawasan orang dan barang di pintu masuk dan keluar
* Aktivasi sistem komando pengendali lapangan (SKPL/ICS)
* Logistik umum

Informasi Lebih Lanjut:
Bidang Komunikasi Sekretariat Komnas FBPI
Wisma ITC Lantai 4, Jalan Abdul Muis No. 8
Jakarta 10160
Telepon: (021) 385 4227
Fax: (021) 385 8974
Email: komunikasi.fbpi@gmail.com
Contact Person:
* Habibie Yukezain - Staf Komunikasi Komnas FBPI (0818 940 627)
* Andika Pambudi - Staf Komunikasi Komnas FBPI (0856 987 5090)
* Sri Sukesi - Humas ADPEL (0813933379221)

Pertemuan Tinjauan Akhir Tahun (Annual Review) Tahun 2009 Program Kerjasama Pemerintah RI – Unicef


Selasa, tanggal 8 Desember 2009 lalu, bertempat di Le Meridien Hotel, Jakarta, Bappenas dan Unicef menyelenggarakan Pertemuan Tinjauan Akhir Tahun (Annual Review) Tahun 2009 Program Kerjasama Pemerintah RI –Unicef.
Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari lembaga nasional dan daerah serta dari pemerintah dan masyarakat antara lain:
  • Depkes
  • Depdiknas
  • Depdagri
  • Deplu
  • Dep. Pekerjaan Umum
  • Dephukham
  • Badan Pembinaan Hukum Nasional
  • Mabes Polri
  • BNPB
  • Depag
  • BKKBN
  • Kementerian Pemberdayaan Perempuan
  • Depsos
  • BPS
  • Depkeu
  • Bappenas (Lintas Kedeputian)
  • Setneg RI
  • Komisi Penanggulangan AIDS
  • Komisi Perlindungan Anak
  • PKK
  • Unicef
  • LSM Nasional dan Lokal
  • Bappeda dan Pemerintah Daerah (Aceh, Sumut, Jabar, Banten,
    Jateng, Jatim, NTB, NTT, Sulsel, Sulbar, Maluku, Malut, Papua, Papua
    Barat)
Beberapa catatan yang dapat diambil dari pertemuan ini adalah:
  • Overview
    pelaksanaan program kerjasama RI – Unicef tahun 2009 di daerah menghasilkan
    beberapa permasalahan:
    • Pengembangan model PAUD bersumber pinjaman luar negeri kurang memperhatikan konsep pemberdayaan masyarakat, sehingga keberlanjutan program sulit dilakukan oleh Pemda.
    • Kurangnya sumber daya manusia yang baik dalam penerapan akuntibilitas program dalam perencanaan dan pertanggungjawaban.
    • Tim fasilitasi pusat yang melibatkan lintas sektor terkait, belum berjalan optimal
      untuk mendukung dan memediasi pelaksanaan program di daerah melalui adbokasi,
      bantuan teknis, dan upaya replikasi program.
    • Beberapa Bappeda Propinsi kurang berfungsi optimal dalam mengkoordinasikan program di daerah, disebabkan oleh:
      • Tidak maksimalnya laporan SKPD di Propinsi ke Bappeda.
      • Mutasi dan promosi di daerah sehingga menghambat koordinasi program di daerah
  • Rekomendasi dari overview pelaksanaan program kerjasama RI – Unicef tahun 2009 di daerah:
    • Perlu koordinasi dengan pusat untuk perluasan sasaran lokasi Desa dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan berbasis masyarakat.
    • Komitmen Unicef perlu dinyatakan dan diperjelas untuk pembangunan sekolah – sekolah ramah anak dan pengembangan taman posyandu.
    • Perlu peningkatan fasilitasi terpadu lintas sektor oleh tim pusat ke daerah.
    • Perlu persetujuan pusat untuk penerapan rekening satu pintu bagi Bappeda Propinsi
      untuk penyaluran dana Unicef ke SKPD Propinsi, sehingga pelaksanaan koordinasi
      dan laporan program dapat berjalan dengan baik.
  • Overview program kesehatan dan gizi:
    • Permasalahan:
      • Bervariasinya kemampuan leadership di Dinas Kesehatan Propinsi – termasuk di dalamnya program management (ada yang kuat tapi kebanyakan lemah).
      • Perlunya meningkatkan koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan monitoring di tingkat Pusat dan Propinsi dan Kab/Kota.
      • Kurangnya harmonisasi antara kebijakan program, pedoman teknis dan pendekatan pemberian pelayanan.
      • Kurangnya sumber daya (bidan dan dokter).
      • Berbedanya siklus perencanaan antara Unicef dan counterpart.
      • Bersaingnya prioritas kegiatan di tingkat kabupaten/kota.
      • Perbedaan kapasitas antara propinsi dan kabupaten/kota.
      • Akses fisik (daerah terpencil) dan berbagai budaya.
    • Rekomendasi:
      • Advokasi kepada propinsi dan kabupaten/kota untuk meningkatkan komitmen.
      • Menerapkan model – model yang telah dikembangkan melalui dukungan Unicef nasional.
      • Memperkuat komunikasi antara Pemerintah RI dengan Unicef untuk mencapai
        sinergitas.
      • Memperkuat kepemimpinan Dinkes Propinsi dan Kabupaten/Kota.
  • Lesson
    learn dari diskusi best practise daerah:
    • Kerjasama lintas sektor adalah penting, keterpaduan jejaring adalah kunci sukses
      pelaksanaan program.
    • Membangun kesadaran masyarakat untuk memahami kebutuhan mereka sendiri.
    • Replikasi adalah indikator kesuksesan.
    • Komitmen tinggi Bupati, DPRD, SKPD (Pemda), masyarakat.
    • Perilaku dan lingkungan adalah hal yang penting.
    • LSM lokal/daerah bisa maju bila diberikan kesempatan kerjasama.
    • Tools untuk komunikasi menggunakan pendekatan multimedia.

Simulasi Kesiapsiagaan dan Respon Menghadapi Pandemi Influenza Kota Batam, 23-24 November 2009

Untuk meninjau tingkat kesiapsiagaan dan respon antar negara dalam menghadapi pandemi influenza A (H1N1) 2009, Komnas FBPI melaksanakan simulasi respon pandemi influenza antar negara di Kota Batam pada 23 – 24 November 2009.

Simulasi ini terselenggara atas kerja sama Komnas FBPI, Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Batam. Lokasi simulasi berada di tiga lokasi utama, yaitu Pelabuhan Sekupang, Komplek Perumahan Sekupang dan sebuah pabrik di Kompleks Industri Berikat Sekupang. Simulasi di Pelabuhan Sekupang dilaksanakan dengan skala penuh yang berarti setiap instansi yang terlibat langsung berperan di lapangan, sedangkan simulasi komplek perumahan Sekupang dan pabrik di Kompleks Industri Berikat Sekupang dimainkan dalam bentuk table top atau role play.

Skenario simulasi pandemi dititikberatkan pada respon multisektor pada situasi pandemi fase enam, yaitu mitigasi dampak pandemi flu mutan ganas. Sedangkan fokus kegiatan simulasi adalah koordinasi multi sektor dengan pengetatan pengawasan di pintu masuk, penanganan kasus di rumah oleh masyarakat dan tenaga sukarela, serta pelaksanaan rencana keberlangsungan dunia usaha khususnya pada pelayanan publik.

Simulasi ini melibatkan perwakilan pemerintah pusat dan daerah , TNI, POLRI, BUMN, media lokal, media nasional dan media internasional yang akan dibuka di Pelabuhan Sekupang, Jl. RE Martadinata, Kota Batam, tanggal 24 November 2009 oleh Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI dan Walikota Batam. Sebelumnya, pada tanggal 23 November 2009 diadakan Table Top Simulation atau simulasi (gladi) ruangan untuk semua pihak – pihak yang berkepentingan.

Kegiatan ini juga didukung oleh pihak swasta. Yaitu pihak – pihak berkepentingan di sekitar Pelabuhan Laut serta masyarakat. Kerjasama ini adalah yang pertama dalam penyelenggaraan simulasi kesiapsiagaan dan respon pandemi influenza.

Garis besar kegiatan yang akan dilaksanakan pada simulasi ini adalah:

No

Lokasi

Kegiatan yang dilakukan

1.

Pelabuhan sekupang

1. Sistem kewaspadaan

2. Sistem koordinasi peringatan dini

3. Surveilans penumpang

4. Karantina penumpang suspect

5. Perawatan penumpang

6. Komunikasi resiko pada penumpang dan pengunjung pelabuhan

7. Rencana Keberlangsungan Usaha untuk pelabuhan

8. Penanggulangan seperlunya

9. Pembatasan sosial

2.

Rumah Detensi Imigrasi sekupang

1. Sistem kewaspadaan

2. Sistem koordinasi peringatan dini

3. Surveilans

4. Tidakan medis seperlunya

5. Perawatan pasien di rumah

6. Komunikasi resiko pada individu dan keluarga

7. Pembatasan sosial

8. Keberlangsungan pelayanan bagi migrant

3.

Pabrik di Kompleks Industri Berikat Sekupang

1. Sistem kewaspadaan

2. Koordinasi peringatan dini

3. Surveilans

4. Tidakan medis seperlunya

5. Perawatan pasien di rumah

6. Komunikasi resiko pada individu dan keluarga

7. Pembatasan sosial

8. Keberlangsungan pelayanan bagi migrant

4.

Pelabuhan antar pulau batam, PDAM dan PLN, Pemko dan otorita batam

1. Sistem kewaspadaan

2. Sistem koordinasi peringatan dini

3. Surveilans penumpang

4. Karantina penumpang suspect

5. Perawatan penumpang

6. Komunikasi resiko pada penumpang dan pengunjung pelabuhan

7. Rencana keberlangsungan usaha untuk pelabuhan

8. Penanggulangan seperlunya

9. Pembatasan sosial

Sosialisasi Tanggap Flu Burung Pantai Senggigi, Lombok


Acara diikutin sm perwakilan ormas wanita & muspida. on Twitpic

Pada tanggal 4 November 2009 lalu, Komnas FBPI bekerjasama dengan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Lombok Barat mengadakan Sosialisasi Tanggap Flu Burung dan Komunikasi Massa Melalui Pemberdayaan Perempuan di daerah Senggigi, Lombok.

Tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit flu burung melalui peningkatan pengetahuan tentang flu burung dan pandemi influenza serta menguatkan koordinasi pemerintah daerah dalam mengantisipasi pandemi influenza. Penguatan koordinasi daerah sangat penting dilakukan agar terbangun kesamaan persepsi dalam kesiapsiagaan menghadapi penyakit flu burung dan pandemi influenza.

Acara ini dihadiri oleh: Perwakilan organisasi wanita kabupaten Lombok barat, Istri pejabat Muspida Kabupaten Lombok Barat, Ikatan Istri Ikatan Dokter Indonesia Lombok Barat, Ikatan Istri Persatuan dokter hewan Indonesia, Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat.

Masalah flu burung dan pandemi influenza merupakan masalah bersama yang harus segera ditangani, terutama di Lombok Barat karena merupakan daerah tujuan wisata. Strategi penanganan flu burung dan pandemi influenza adalah dengan: Melakukan komunikasi, informasi dan edukasi pada masyarakat, Memberdayakan pelayanan kesehatan, Penyidikan lapangan terpadu, Tindakan pencegahan masuknya virus di pintu masuk, Respon penanganan kasus, dan Koordinasi lintas sektor.

Pemerintah kabupaten Lombok Barat melalui Bupatinya sangat mendukung acara ini karena membantu komitmen pemerintah daerah dalam Gerakan Terpadu Membangun Desa, yang salah satu programnya adalah peningkatan status kesehatan masyarakat. Dan pencegahan flu burung akan dimaksukkan didalam program tersebut. Kedepannya, diharapkan adanya sosialisasi untuk tokoh agama (ulama, tuan guru), karena para tokoh agama memegang peranan penting di daerah ini.

Selamat dan Sukses Dr. Bayu Krisnamurthi!

Selamat dan Sukses Dr. Bayu Krisnamurthi, Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI sebagai Wakil Menteri Pertanian RI yang akan dilantik, Rabu, 11 November 2009 ini.

Harapan dari masyarakat kesehatan yang kami kutip dari forum diskusi Indozoone antara lain:
  • "Semoga pertanian kita maju dan kuat, serta Deptan mampu mencegah, mengantisipasi, menanggulangi dan memberantas penyakit-penyakit hewan dan tanaman strategis yang dapat menghambat/mengganggu produksi dan pendapatan petani, serta mengancam kesehatan manusia (masyarakat)." Denny Lukman, FKH IPB.
  • "Semoga masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit-penyakit zoonosis akan lebih mendapatkan perhatian. Juga hubungan kerja antara Deptan dan Depkes akan lebih erat dan bersama-sama kita akan dapat memecahkan masalah penyakit zoonosis secara terintegrasi." Agus Suwandono dan Steve Aswin, Unicef Indonesia.
Seperti dicuplik dari Antara:

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik lima wakil menteri yang akan ditempatkan di departemen yang dinilai memiliki beban berat. Lima wakil menteri itu dilantik pada upacara di Istana Negara, Jakarta, Rabu, pada pukul 09.00 WIB. Presiden dalam upacara pelantikan itu juga menyaksikan pengucapan sumpah jabatan dari lima wakil menteri yang dilantik.

Lima wakil menteri itu adalah Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar, dan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun.

Mereka adalah pejabat karir dari departemen masing-masing. Selain melantik lima wakil menteri, Presiden pada Rabu juga melantik Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan.

Menurut rencana, Presiden akan mengangkat wakil menteri di 11 departemen yang dinilai memiliki beban berat pada pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Keduaperiode 2009-2014.

Pengangkatan wakil menteri didasari oleh pasal 10 UU No 29 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara yang mengijinkan Presiden untuk mengangkat wakil menteri di departemen yang dianggap perlu.

Sekali lagi selamat kepada Pak Bayu!

Pandemic (H1N1) 2009 - update 72

Pandemic (H1N1) 2009 - update 72

Weekly update

As of 25 October 2009, worldwide there have been more than 440,000 laboratory confirmed cases of pandemic influenza H1N1 2009 and over 5700 deaths reported to WHO.

As of 25 October 2009, worldwide there have been more than 440,000 laboratory confirmed cases of pandemic influenza H1N1 2009 and over 5700 deaths reported to WHO.

As many countries have stopped counting individual cases, particularly of milder illness, the case count is likely to be significantly lower than the actual number of cases that have occurred.

WHO is actively monitoring the progress of the pandemic through frequent consultations with the WHO Regional Offices and member states and through monitoring of multiple sources of data.

Situation update

In the temperate zone of the northern hemisphere, influenza transmission continues to intensify marking an unusually early start to winter influenza season in some countries. In North America, the US, and parts of Western Canada continue to report high rates of influenza-like-illness (ILI) and numbers of pandemic H1N1 2009 virus detections; Mexico has reported more confirmed cases since September than during the springtime epidemic.

In Western Europe, high rates of ILI and proportions of respiratory specimens testing positive for pandemic H1N1 2009 have been observed in at least five countries: Iceland, Ireland, the UK (N. Ireland), Belgium, and the Netherlands. Many other countries in Europe and Western and Central Asia are showing evidence of early influenza transmission, including in Spain, Austria, parts of Northern Europe, Russia, and Turkey.

In Japan, influenza activity has also increased sharply, especially on the northern island, approximately 10 weeks ahead the usual start of the winter influenza season.

Pandemic influenza transmission remains active in many parts of the tropical zone of the Americas, most notably in several Caribbean countries.

Overall transmission continues to decline in most but not all parts of the tropical zone of South and Southeast Asia.

Little influenza activity has been reported in temperate region of the southern hemisphere since the last update.

(Continue. . .)

Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor se-Sumatera Selatan

Pada tanggal 22 Oktober 2009 lalu di Palembang, Komnas FBPI memfasilitasi pertemuan koordinasi penanganan flu burung dan respon pandemi influenza (H1N1) antar instansi Pemerintah Dearah se - Sumatera Selatan. Pertemuan ini merupakan inisiasi kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Regional Lampung yang baru dibentuk.

Maksud dan tujuan pertemuan koordinasi ini adalah:

1.Dibutuhkan peraturan daerah, baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang berisi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang dapat mendukung terlaksananya respon cepat terhadap pandemi influenza A.

2.Perlunya pembentukan komite bersama, revitalisasi kelembagaan yang ada dan pembuatan struktur komando yang jelas antar semua pihak yang terlibat dalam pengendalian pandemi influenza A mulai dari provinsi sampai dengan kabupaten/kota.

3.Pembuatan dan pelaksanaan peraturan daerah tentang pewilayahan peternakan dan tatalaksana beternak di daerah pemukiman.

4.Perlunya defenisi kasus yang jelas pada Infuenza A H1N1 2009 sehingga mempermudah pelaksanaan diagnosis dan managemen kasus.

5.Penguatan laboratorium kesehatan daerah yang mampu melakukan diagnosis Influenza A dengan cepat sehingga pelaksanaan manajemen kasus lebih cepat dilakukan.

6.Perlunya sosialisasi Influenza A H1N1 2009 yang terkoordinasi di bawah Menteri Komunikasi dan Informasi dengan leading sector pemerintah kabupaten/kota melalui dinas teknis, yang berisi informasi tentang flu babi dan flu burung, sehingga tidak meresahkan, menggunakan bahasa umum dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas.

7.Diperlukan tindak lanjut dari workshop ini sehingga lebih operasional dan rinci seperti pelaksanaan simulasi penanggulangan pandemi influenza di masing kabupaten/kota.

WHO: Pandemic (H1N1) 2009 - update 71

Weekly update:

As of 17 October 2009, worldwide there have been more than 414,000 laboratory confirmed cases of pandemic influenza H1N1 2009 and nearly 5000 deaths reported to WHO.

As many countries have stopped counting individual cases, particularly of milder illness, the case count is significantly lower than the actually number of cases that have occurred. WHO is actively monitoring the progress of the pandemic through frequent consultations with the WHO Regional Offices and member states and through monitoring of multiple sources of data.

New Activity:

Mongolia, Rwanda, and Sao Tome and Principe have reported pandemic influenza cases for the first time this week.

Iceland, Sudan, and Trinidad and Tobago reported their first fatal cases.

Situation update:

In general, influenza activity in the northern hemisphere is much the same as in the last week, though respiratory disease activity continues to spread and increase in intensity. In North America, the U.S.A. is still reporting nationwide rates of Influenza-Like Illness (ILI) well above baseline rates with high rates of pandemic H1N1 2009 virus detections in clinical laboratory specimens (29% of all specimens tested are positive for influenza A and all of those subtyped are pandemic H1N1 2009 virus. Canada reports increases in ILI rates for the fourth straight week but the highest level of activity is in the western province of British Columbia. Mexico still reports active transmission in some areas of the country. Although influenza activity is low in most countries in Europe, in Belgium, Israel, the Netherlands, Norway, and parts of the United Kingdom consultation ILI/ARI rates are above baseline levels. Similarly the number of influenza virus detections relatively high, which may indicate the early start of an influenza season. Rates of respiratory illness in Eastern Europe and Northern Asia are increasing but are not yet at levels normally seen in an influenza season (baseline levels are not defined in many countries of the area). Of note, the proportion of cases in Asia that are related to seasonal influenza A(H3N2) continue to decline globally as the proportion related to pandemic H1N1 2009 virus increases. Currently, only East Asia is reporting any significant numbers of influenza A(H3N2) isolates.

In tropical areas of the world, rates of illness are generally declining, with a few exceptions. Cuba, Colombia, and El Salvador are reporting increases in the tropical region of the Americas. In tropical Asia, of the countries that are reporting this week, all report decreases in respiratory disease activity.

The temperate region of the southern hemisphere has no significant pandemic related activity in the past week.

More: WHO

Seminar Pandemi Influenza 1918 Hindia Belanda




Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Depok - 15 Oktober 2009

Tim sejarah Universitas Indonesia menyelenggarakan seminar berjudul "Pandemi Flu 1918 di Hindia Belanda".

Beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan antara lain:

•Sumber-sumber sejarah lainnya mengatakan bahwa pandemi influenza di tahun 1918 dipercaya bermula dari Amerika Serikat (AS) dan berawal di bulan Maret 1918, lalu menyebar ke Eropa bersamaan dengan kedatangan pasukan AS yang dikirim ke sana. Beberapa pekan kemudian, penyakit ini mulai menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya. Pada bulan Juni, penyakit ini sudah mencapai Bombai, India, lalu mencapai Pankattan di pantai timur Sumatera. Tempat ini sekarang diyakini sebagai Kabupaten Pangkatan di Sumatera Utara. Kuat dugaan bahwa penyakit ini dibawa oleh para pemukim di daerah semenanjung (Singapura atau Semenanjung Malaya).

•Konsulat Belanda di Singapura, yang pertama kali menyadari ancaman ini, memperingatkan Batavia (sekarang Jakarta) mengenai kemungkinan datangnya orang-orang dengan gejala flu.

•Pada awal tahun 1919, wabah flu menyebar ke Jawa Tengah dan kemudian memasuki Jawa Barat. Pihak administrator Batavia terkejut dengan melonjaknya jumlah pasien flu baru, mengalahkan jumlah pasien wabah pes yang sempat melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tahun sebelumnya.

•Pemerintah memutuskan untuk membagikan obat antimalaria, yang dikenal penduduk setempat dengan nama "pil kina", sebagai tindakan pencegahan. Untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya komplikasi dengan penyakit kronis lainnya, pemerintah juga menyarankan kepada pasien tertentu untuk mengkonsumsi opium.

•Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD), sebuah badan kesehatan pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda, melakukan penyelidikan dan berhasil membuat beberapa kesimpulan terkait dengan penyakit baru ini. BGD menyimpulkan bahwa wabah influenza dapat masuk ke Hindia Belanda melalui para pemukim di daerah semenanjung. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi secara cepat karena dibawa oleh para pendatang. Badan kesehatan tersebut juga menyimpulkan bahwa tingkat infeksi yang tinggi disebabkan oleh beberapa faktor seperti kerentanan penduduk terhadap infeksi influenza; periode inkubasi yang pendek; kemampuan virus untuk menyebabkan dampak kesehatan yang parah dalam waktu 2 sampai 5 hari; modus penyebaran virus yang dapat menyebar melalui organ pernapasan dari satu pasien ke pasien lainnya melalui berbicara, batuk, atau bersin; serta banyaknya penduduk yang sudah mulai sakit namun tetap bekerja dan bersosialisasi dengan orang lain, termasuk mereka yang bekerja di sekolah-sekolah, pabrik, masjid, serta gereja sehingga membantu terjadinya penyebaran virus.

•Pemerintah juga mengambil langkah-langkah komunikasi publik dengan menginstruksikan kantor-kantor informasi untuk menyebarluaskan informasi tentang pandemi influenza. Sebuah brosur dibuat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang berisi tentang kebiasaan sehari-hari yang dapat berperan mencegah influenza.

Pandemic (H1N1) 2009 - update 68

Sampai dengan 27 September 2009, tercatat lebih dari 340.000 laboratorium mengonfirmasi kasus pandemic influenza H1N1 2009, dan lebih dari 4.100 kematian dilaporkan ke WHO.

Sejauh ini telah banyak negara yang menghentikan penghitungan kasus individu, terutama kasus ringan, jumlah kasus secara signifikan lebih rendah dibanding yang sebenarnya telah terjadi. WHO secara aktif terus memantau perkembangan pandemi melalui konsultasi secara teratur dengan kantor regional WHO dan negara anggota, dan melalui pemantauan dari berbagai sumber data.

Tingkat penularan virus influenza dan penyakit menyerupai influenza (influenza-like-illness/ILI) terus meningkat di wilayah yang beriklim sedang di belahan bumi utara. Di Amerika Utara, influenza menular dan menyebar secara geografis dan terus meningkat. Tingkat penyebaran penyakit menyerupai influenza terus meningkat dan tetap berada diatas garis dasar influenza musiman selama empat minggu terakhir di sebagian besar wilayah Amerika Serikat. Di Meksiko, telah dilaporkan penyakit pernapasan dengan intentitas yang tinggi selama dua minggu berturut-turut (minggu 37-38), dengan peningkatan kasus terbesar dilaporkan terjadi di bagian utara dan barat laut negara tersebut. Di Eropa, Bagian Tengah dan Asia Barat, meskipun keseluruhan aktivitas influenza tetap rendah, peningkatan penularan telah dicatat di sejumlah negara dan terus meningkat pada negara lain. Tingkat penyakit menyerupai influenza berlanjut terus di atas tingkat garis batas di Irlandia, bagian dari Inggris Raya (Irlandia Utara), Israel dan Perancis; tambahan, lebih dari 10 negara lain di wilayah ini telah melaporkan pembatasan penyebaran influenza secara geografis. Di Jepang, aktivitas influenza terus meningkat diatas ambang epidemic influenza musiman sejak minggu 33.

Di daerah tropis Amerika dan Asia, penularan influenza tetap aktif tapi kecenderungan jumlah penyakit pernapasan berubah-ubah. Meskipun aktivitas penyakit pernapasan menyebar secara geografis di sepanjang wilayah tropis Amerika, banyak negara baru-baru ini melaporkan kecenderungan penurunan (Bolivia, Brazil, Kostarika, El Salvador, Panama, Paraguay, Venezuela), ketika negara lain cenderung melaporkan peningkatan (Kolumbia dan Kuba). Di wilayah tropis Asia, penyakit pernapasan cenderung terus meningkat di sebagian India dan Kamboja, ketika negara lain di asia Tenggara cenderung melaporkan penurunan penularan.

Di wilayah beriklim sedang belahan bumi selatan, penularan influenza sebagian besar kembali ke garis dasar (Chili, Argentina, dan Selandia Baru) atau menurun pada intinya (Australia dan Afrika Selatan).

Semua virus pandemic influenza H1N1 2009 yang telah dianalisis sampai saat ini secara antigenic dan genetic serupa dengan virus pandemic H1N1 2009 A/California/7/2009. Lihat tautan dibawah untnunk pembaruan hasil surveilans laboratorium lebih lanjut.

Diterjemahkan dari WHO Pandemic (H1N1) 2009 - update 68: http://www.who.int/csr/don/2009_10_02/en/index.html

Pandemic (H1N1) 2009 - update 67 (Diterjemahkan)



sumber foto: http://phil.cdc.gov/PHIL_Images/11702/11702_lores.jpg


Sampai dengan 20 September 2009, tercatat lebih dari 300.000 kasus influenza H1N1, dengan 3917 kematian di 191 negara yang melapor pada Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Semakin banyak negara yang memberhentikan penghitungan kasus individu, terutama sakit yang lebih ringan, jumlah kasus secara signifikan lebih rendah dibanding kasus yang sebenarnya terjadi. Sementara jumlah kasus tidak lagi mencerminkan perkembangan penyakit yang sebenarnya, WHO secara aktif terus memantau perkembangan pandemi melalui konsultasi secara teratur dengan kantor regional WHO dan negara anggota, dan melalui pemantauan dari berbagai sumber data.

Pada wilayah beriklim sedang belahan bumi bagian utara, aktifitas penyakit menyerupai influenza (Influenza Like Illness-ILI) terus meningkat di banyak tempat. Di Amerika Utara, Amerika Serikat melaporkan peningkatan aktifitas berkelanjutan diatas garis angka musiman pada 2-3 minggu terakhir, terutama bagian tenggara dan sekarang juga muncul di bagian atas, tengah dan timur laut. Di Eropa, Asia Tengah dan Asia Barat, serta Inggris Raya melaporkan peningkatan aktifitas ILI khususnya di daerah Irlandia Utara, Skotlandia dan Belanda. Perancis, Irlandia dan Israel melaporkan kasus diatas garis angka flu musiman. Di Jepang, aktivitas influenza terus meningkat diatas ambang epidemi musiman.

Di wilayah tropis Amerika dan Asia, aktifitas influenza cenderung tetap. Sebagian India, Bangladesh dan Kamboja, penularan influenza tetap aktif, sementara negara lain di Asia Tenggara baru-baru ini melaporkan penurunan penularan (Indonesia, Singapura, dan Thailand). Meskipun kebanyakan negara di daerah tropis Amerika tetap melaporkan persebaran aktifitas influenza secara geografi di daerahnya, tidak ada pola tetap kecenderungan pada penyakit pernapasan. Peru dan Meksiko telah melaporkan kecenderungan peningkatan di beberapa wilayah, dimana sebagian besar yang lain melaporkan penurunan atau tidak ada perubahan (khususnya Bolivia, Venezuela dan Brazil).

Di wilayah beriklim sedang belahan bumi bagian selatan, penularan influenza sebagian besar kembali ke garis dasar (Chile, Argentina, dan Selandia Baru) atau terus menurun (Australia dan Afrika Selatan).

Semua virus virus pandemic influenza H1N1 2009 yang telah dianalisis sampai hari ini memiliki sifat antigenic dan genetic serupa dengan virus pandemic influenza H1N1 2009 A/California/7/2009.

Selengkapnya baca di WHO Indonesia: http://www.who.int/csr/don/2009_09_25/en/index.html




Galeri Foto Sosialisasi Pencegahan Flu A-H1N1 Kepada Pemudik

Foto - foto kegiatan sosialisasi pencegahan Flu A-H1N1 dengan membagikan perangkat pencegahan praktis kepada setiap calon pemudik di pusat-pusat transportasi utama di Kota Jakarta bekerjasama dengan Unicef Indonesia.









Direktori Link Situs Flu A-H1N1

Pusat Informasi:



Lembaga Internasional:


Kumpulan Berita:


Blog:


Jurnal/Penelitian:


Peta:


Lainnya:


RSS Feeds/Media Sosial:


Link-link tersebut akan terus diperbaharui. Bila ada yang ingin menambahkan, silahkan tambahkan komentar. Semoga bermanfaat.