Apa Itu Pandemi? (Infografi)

Apa yang dimaksud dengan pandemi? Apa tahapan-tahapan dalam pandemi? Bagaimana sejarah pandemi yang pernah terjadi di masa lalu? 

Kalau tidak ingat saya dulu pernah membuat posting tentang ini, namun penting juga untuk mengulang kembali dengan penyampaian yang lebih menarik yaitu dengan infografi berikut:

International Pandemics
Infografi Tentang Pandemi

Source: NursingSchoolHub.com

Brosur Pencegahan Flu Burung dari Kemenkes

Berikut ini media sosialisasi pencegahan Flu Burung dari Kemenkes Republik Indonesia. Saya tidak menemukan lebih dari ini, untuk itu saran saja, Kemenkes perlu menyusun dan menciptakan lebih banyak media sosialisasi pencegahan flu burung, dan tentunya yang lebih menarik.



Kasus Flu Burung Baru 2015


Seakan lama Indonesia tidak ada lagi kasus flu burung (pada manusia). Namun baru-baru ini ada lagi kasus flu burung di Tangerang, Banten, Kamis 26 Maret 2015. Kali ini dapat dikatakan dahsyat karena berpotensi menjadi kasus kluster atau kasus yang terjadi pada lebih dari satu orang.

Perhatian saya sejujurnya adalah pada kasus flu burung yang terjadi di Amerika Serikat, yaitu yang terjadi pada sebuah peternakan beberapa negara bagian.

Bahkan lebih dari itu, saat ini ada wabah yang berbahaya yakni Ebola di Afrika.

Kasus flu burung terakhir ini cukup membangkitkan perhatian para pakar kesehatan hewan dalam negeri. Pertama oleh CA Nidom dari Universitas Airlangga Surabaya. Beliau dalam wawancaranya dengan Republika.co.id menyatakan bahwa kasus flu burung masih terjadi dan terulang di Indonesia karena pemerintah yang tidak fokus. Kasus flu burung selalu terulang di Tanah Air karena pemerintah tak berkonsentrasi untuk mengatasinya. Padahal, negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand bisa bebas flu burung. Cara untuk memberantas penyakit ini adalah dengan menyelesaikan program vaksin.

Pernyataan diatas berhubungan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan Tim Peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) yang dikutip dari Solopos.com. Michael Haryadi Wibowo, peneliti mikrobiologi dari FKH UGM dalam pemaparannya menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan pada lokasi peternakan unggas di Kabupaten Sleman, Kulonprogo dan Gunungkidul, berdasarkan uji HI, RT-PCR dan VI pada titer antibodi tidak terindikasi infeksi virus H5N1 pada ayam yang berumur 18-68 minggu. Tidak terdapatnya indikasi virus AI, Haryadi menengarai karena masing-masing peternakan melaksanakan proses biosekuriti dan sanitasi secara ketat serta vaksinasi secara teratur.

Hidup Bersama Flu Burung

Kasus flu burung yang terus berulang menyiratkan bahwa virus ini akan ada dan terus bersama kita. Untuk itu kita harus terus waspada, melakukan praktik beternak dan pola hidup sehat.

Berikut saya share link-link mencegah flu burung:
  1. Buku Saku Flu Burung dari Kemenkes RI
  2. Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung (Avian influenza) dari Kementan RI
Selain itu saya berharap pemerintah mengambil aksi nyata dan kebijakan terkait penanganan kasus flu burung seperti kembali mengendalikan lalu lintas unggas, pengawasan peternakan unggas (surveilance and monitoring, penelitian, serta komunikasi dan edukasi.

Bila teman-teman ingin mengikuti berita-berita terbaru mengenai flu burung, saya siapkan Facebook Page untuk berbagi informasi dan berdiskusi. Teman-teman dapat mem-follownya di link: https://www.facebook.com/infoflu 

Image by giallopudding / Pixabay

15 Perlengkapan yang Harus Dimiliki pada Saat Keadaan Darurat Bencana

Bersiap untuk darurat, stok makanan yang mudah dipersiapkan dan tahan lama


Situasi banjir, erupsi gunung berapi, gempa bumi, wabah flu/pandemi, dan Ebola merupakan situasi yang menyebabkan lumpuhnya layanan publik dan ekonomi. Saat keadaannya parah maka negara dapat menerapkan martial law atau keadaan darurat militer. Situasi tersebut dikeluarkan negara-negara Afrika Barat saat mengalami wabah Ebola baru-baru ini.

Saat harus mengalami situasi darurat sehingga kita harus menetap di rumah dan terbatas mobilitasnya maka penting untuk mempersiapkan diri. Berikut ini saya akan share 15 perlengkapan penting yang harus Anda miliki untuk mempersiapkan diri dalam situasi darurat yang dikutip dari Networx.

1. Air Bersih
Air lebih penting daripada makanan untuk kelangsungan hidup manusia. Air penting untuk mencegah dehidrasi dan tujuan higienis. Untuk itu, alat masak atau perangkat penyaring air tambahan juga dibutuhkan.

2. Makanan
Makanan yang dibutuhkan adalah yang dapat disimpan untuk waktu lama dan yang membutuhkan persiapan minimal. Perhatikan tempat penyimpanannya, pilih yang tertutup rapat dan tidak mudah pecah. Rekomendasi: snack granola, selai kacang, buah-buahan kering, ikan kering, susu formula, makanan kaleng. 

3. Multivitamin
Vitamin tablet/kapsul perlu untuk mengimbangi asupan gizi dari makanan kita yang terbatas.

4. Cahaya
Sebuah lampu emergency LED portabel yang terisi penuh ditambah baterai ekstra tidak hanya dapat membuat Anda lebih nyaman, namun dapat digunakan sebagai sinyal bagi pihak berwenang.

5. Kotak P3K
Pastikan isinya lengkap dan carilah pelatihan atau informasi tentang pertolongan pertama.

6. Selimut dan Baju Hangat
Siapkan selimut hangat dan baju hangat. Simpan di tempat yang terlindungi agar tetap bersih dan kering. Sebuah terpal dan jas hujan juga dapat berguna. 

7. Alat-alat Perkakas
Sebuah kunci pas atau tang dan obeng dapat berguna untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Selain itu, pisau lipat, tali-temali, palu, dll juga dapat menjadi perangkat penting untuk membantu melakukan penyesuaian tertentu bagi tempat perlindungan kita.

8. Masker
Jika udara sangat terkontaminasi, masker akan membantu Anda bernapas.

9. Radio
Radio berguna untuk mendengar kabar ter-update mengenai instruksi darurat dari pemerintah setempat. Jangan lupa siapkan baterai cadangan.

10. Peralatan Sanitasi Medis
Perlengkapan kebersihan feminim, tissue basah, cairan disinfektan/pencuci tangan, popok dewasa sekali pakai yang sudah banyak tersedia jangan sampai terlupakan.

11. Dokumen
Buatlah sebuah folder kecil yang terdiri informasi kontak keluarga dan salinan dokumen penting (Instruksi mengenai info medis, polis asuransi, akte kelahiran, kartu identitas dan paspor). Simpan juga salinan tambahan dari dokumen-dokumen ini dalam penyimpanan online dan CD atau flash disk.

12. Uang Tunai
Buat tempat penyimpanan uang tunai dengan jumlah yang cukup di tempat yang aman dari air dsb.

13. Kunci Duplikat
Siapkan satu set kunci duplikat mobil dan rumah Anda.

14.  Mainan Anak-anak
Bila Anda memiliki anak, siapkan seperangkat alat bermain untuk mereka agar tidak bosan dan terhibur. Siapkan juga untuk Anda seperti catur, kartu, dsb.

15. Pakan Hewan
Terakhir, bila Anda memiliki hewan piaraan, siapkan makanan yang cukup untuk hewan kesayangan Anda.

Sebagai tambahan mungkin adalah perangkat penyimpan daya baterai (power bank) yang terisi penuh. Ini penting untuk menunjang kebutuhan komunikasi dan koneksi kita ke dunia luar.

Demikian kami share 15 barang-barang yang penting untuk dimiliki untuk menghadapi situasi darurat, dan dalam hal ini wabah penyakit flu dimana kita dapat dibatasi mobilitasnya. Sampaikan ide dan saran bila ada. Semoga bermanfaat.

Informasi tentang Ebola (Infographic)

Berikut ini adalah infograpfic tentang penyakit Ebola yang cukup informatif. Semoga bermanfaat.


Ebola
by Raj Kamal.

Cara Mencegah Ebola



Beberapa hari ini kita melihat berita tentang menyebarnya wabah ebola di Afrika Bagian Barat. Ebola Hemorrhagic Fever (Ebola HF) adalah penyakit mematikan pada manusia dan primata. Asalnya masih belum diketahui, namun sebagian besar peniliti percaya bahwa penyakit ini bersifat zoonosis atau yang berasal dari hewan.

Dinamakan Ebola merujuk dari nama sungai di Negara Kongo, tempat penyakit ini pertama muncul pada tahun 70an.

Walaupun Indonesia belum terjangkit dengan penyakit ini, namun untuk diketahui berikut ini adalah tips untuk menghindari infeksi, melindungi diri dan langkah apa yang harus diambil saat terinfeksi.


1. Pahami bagaimana penyakit Ebola menyebar.

Ebola menyebar dalam berbagai cara, utamanya melalui kontak langsung dengan penderita, khususnya darah dan sekresi pasien yang terinfeksi. Namun itu, kontak dengan benda-benda seperti pakaian, selimut, dan jarum juga dikaitkan dengan penyebaran penyakit ini.


2. Hindari bepergian ke daerah yang diduga atau dilaporkan.

Ebola berada di negara-negara Afrika Tengah dan Barat, dan menyebar disekitar fasilitas kesehatan dimana pasien tersebut dirawat. Tetap terinformasi mengenai daerah-daerah mana yang berbahaya. Info lengkap mengenai wilayah-wilayah mana yang diduga dan dikonfirmasi berbahaya dapat dicek melalui situs WHO berikut http://www.who.int/csr/disease/ebola/en/


3. Hindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Karena penyakit ini menyebar terutama melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, maka cara terbaik untuk menghindari infeksi adalah menghindari orang yang sudah sakit. Darah dan cairan tubuh lainnya dari pasien yang terinfeksi sangat erat kaitannya dengan penyebaran penyakut.


4. Hindari makan daging dari binatang liar/buruan.

Peneliti memiliki kecurigaan bahwa penyakit datang melalui hewan liar, dan hewan liar tersebut mengkonsumsi daging primata.


5. Ketahui gejala-gejala Ebola.

Gejala umum dari penyakit ini antara lain:
  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Nyeri sendi dan otot
  4. Badan lemah
  5. Diare
  6. Muntah
  7. Nyeri perut
  8. Kurang nafsu makan
Gejala lain antara lain:
  1. Ruam
  2. Mata kemerahan
  3. Cegukan
  4. Batuk
  5. Sakit tenggorokan
  6. Nyeri dada
  7. Kesulitan bernapas atau menelan
  8. Pendarahan dalam dan diluar tubuh


6. Cuci tangan secara teratur dan bersih dengan sabun anti bakteri, istirahat yang baik, serta perilaku hidup bersih dan sehat.


7. Melaporkan kepada petugas kesehatan bila mengalami gejala-gejala terkait.

Semoga tips ini dapat sedikit memberikan pengetahuan bagi teman-teman mengenai penyakit Ebola. Adapun kunci utama pengendalian penyakit Ebola adalah efektifitas penanganan pada sumbernya serta melokalisasi penyakit agar tidak meluas.

Semoga pula, Kementerian Kesehatan dapat meningkatkan kapasitasnya dengan baik dan mensosialisasikan tentang penyakit ini kepada masyarakat luas agar (amit-amit bila terjadi) kita siap menghadapinya.

Demikian, bila ada tambahan dan masukan, sangat kami hargai :)

Sumber: Wikihow

Video: Kira-kira Seperti Ini Pandemi Bila Terjadi


"We live in a complex world. The more advanced it gets, the more vulnerable it becomes. We've created a house of cards. Remove just one, and everything falls apart.
On Black Friday, a devastating pandemic sweeps through New York City, and one by one, basic services fail. In only days, without food or water, society collapses into chaos. The Division, an autonomous unit of tactical agents, is activated. Leading seemingly ordinary lives among us, these agents are trained to operate independently in order to save society.
When society falls, your mission begins."
Video diatas memang hanya animasi. Namun gambaran yang diberikan game terbaru Tom Clancy's: The Division ini cukup memberi rasa takut bagi yang melihatnya. Pandemic apocalypse atau kiamat pandemi saya anggap sesuatu yang baru untuk menjadi plot dalam video games. Kita biasa menemukan games dengan latar belakang kiamat zombie, kiamat alien, atau kiamat makhluk gaib.

Beberapa hal yang menarik untuk diketahui dari video tersebut yaitu bagaimana pelayanan umum lumpuh, masyarakat mengunci diri dengan mengumpulkan stok makanan dan minumannya, tidak ada penegakkan hukum, kehilangan orang-orang terdekat, dan runtuhnya norma-norma sosial.

Yang pasti hal pandemi belum terjadi, dan gambaran tersebut hanyalah suatu pengantar bagi para pemilik perangkat games untuk membeli games tersebut. Namun kita seperti diingatkan dan diperlihatkan agar selalu mewaspadai terhadap penyakit-penyakit menular yang berpotensi mewabah dan pandemi.

Semoga pemerintah kita ada yang hobi main games :)

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Republik Indonesia tentang Kesiapsiagaan Pandemi

Surat Terbuka untuk Calon Presiden RI Tentang Kesiapan Menghadapi Pandemi

Kepada yang terhormat Bapak Calon Presiden Republik Indonesia

di Tempat

Atas nama penduduk Indonesia yang peduli dengan kesehatan pada umumnya dan terutama sosialisasi penularan penyakit bersumber binatang (zoonosis) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi, dengan ini kami ingin menyampaikan aspirasi kami.

Negara Indonesia telah melewati masa terburuk dalam hal kesehatan masyarakat dan hewan saat penyebaran wabah flu burung beberapa saat yang lalu. Banyak orang yang telah kehilangan. Tak hanya nyawa keluarga tercinta mereka, orang tua serta anak-anak mereka; namun juga hewan ternak mereka, sumber pendapatan; serta iklim usaha, sumber penghidupan mereka. Kemudian kita bersama juga telah melalui pandemi influenza ringan yang terjadi di tahun 2009. Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat Indonesia terhindari dari dampak wabah raya yang luar biasa. Namun begitu, potensi pandemi masih di depan mata, masih banyak penyakit bersumber binatang yang masih endemis dan tersebar luas di berbagai pelosok Indonesia. Rabies masih menghantui Bali, Sumatra dan Maluku. Berbagai penyakit zoonosis yang berpotensi pandemi lainnya masih menghantui.

Maka sesuai dengan tema Hari Kesehatan Dunia tahun 2014 ini, yang mengangkat tema “Small Bites Big Threat” pengendalian penyakit menular (vector-borne diseases), maka pemerintah kedepan harus meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian penyakit menular.

1. Pemerintah harus membentuk satu badan khusus yang menangani penyakit menular. Seperti halnya Central of Disease Control (CDC) di Amerika Serikat dimana tugas mereka hanya berkonsentrasi dalam manajemen pengendalian penyakit. Badan tersebut haruslah memiliki wewenang kuat, karena dalam pengendalian penyakit menular dibutuhkan tindakan karantina, investigasi, dan lain sebagainya sebagai bentuk respon terhadap munculnya wabah penyakit. Saat ini Indonesia memiliki satuan serupa setingkat Direktorat Jenderal dibawah Kementerian Kesehatan RI. Kekurangannya adalah mereka tidak memiliki wewenang teknis untuk bergerak cepat di lapangan disaat terjadi wabah penyakit dan bergantung pada koordinasi dengan pihak Dinas Propinsi dan Kabupaten/Kota terkait. Penyakit menular seperti bom waktu, kita harus bergerak cepat dan melakukan tindakan yang tepat.

Meski telah dibentuk Komite Nasional Pengendalian Zoonosis, namun struktur organisasi yang dibawah Kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat membuat badan ini tidak dapat bergerak leluasa dan bekerja secepat yang diharapkan, sesuai sifat kerja yang diperlukan untuk mencegah pandemi: cepat dan tepat. Sudah saatnya Komite Nasional Pengendalian Zoonosis menjadi jembatan lintas sektor, bekerja sangat dekat dengan lembaga lain, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional dan Palang Merah Indonesia karena wabah penyakit (baik di manusia dan hewan) adalah termasuk bencana, yang penanggulangannya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah.

2. Perlunya mengintegrasikan paradigma One World, One Health, One Medicine, Eco-Health dengan Animal Welfare dan berbagai konsep pemikiran lainnya yang mencoba mengatasi masalah penyebaran penyakit dengan mempertimbangkan perubahan lingkungan serta perilaku manusia. Karena saat ini kesehatan hanya seperti menjadi tanggungjawab Kementerian Kesehatan dan belum menjadi salah satu fondasi penting dalam semua aspek kebijakan dan rencana yang dijalankan oleh sektor lain.

3. Fokus terhadap penyakit menular berpotensi pandemi, akan memberi ruang kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk meningkatkan fokusnya menghadapi tantangan penyakit tidak menular, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan serta penyempurnaan universal health coverage.

4. Meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat melalui pendidikan formal dan non-formal, media komunikasi yang mudah diakses. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan petugas kesehatan khususnya dan pihak-pihak teknis terkait seperti Karantina, Imigrasi, TNI/Polri, dsb tentang darurat bencana kesehatan.

Sudah saatnya kita memiliki pemimpin negara yang tidah terbelenggu oleh kepentingan politik dan menghamba pada kepentingan kelompoknya saja dalam lima tahun kedepan.

Atas nama kesehatan dan kemaslahatan manusia Indonesia,

Tertanda,

Penggiat kesiapan menghadapi pandemi.

Tips Mencegah Penyakit MERS-CoV

http://www.freedigitalphotos.net/images/protective-face-mask-photo-p174916


Melanjutkan artikel kami sebelumnya mengenai penyakit MERS-CoV berikut ini kami berbagi tips mencegah penyakit MERS-CoV:

Tunda bepergian ke Timur Tengah. Seperti kita ketahui, penyakit MERS-CoV berasal dari negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Mengingat Arab Saudi adalah tempat suci Umat Islam untuk menjalankan ibadah Umrah dan Haji maka disarankan untuk menunda bepergian kesana khususnya bagi calon jamaah yang memiliki riwayat penyakit kronik.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dalam situs Kementerian Kesehatan dijelaskan topik khusus mengenai PHBS bagi jamaah haji antara lain:
  1. Makan 3 kali sehari dan jangan terlambat.
  2. Tidak menyimpan makanan lebih dari 2 jam, karena akan rusak (basi/berlendir).
  3. Minum air putih 1 gelas tiap jam.
  4. Gunakan masker yang dibasahi air, untuk melembabkan udara, mencegah mimisan dan debu.
  5. Memakai pakaian tebal dan menutup tubuh seperti kaos kaki, sarung tangan dan penutup leher untuk menghindari sengatan dingin.
  6. Cuci tangan pakai sabun. Sebelum makan, setelah buang air kecil/besar.
  7. Jaga kebersihan toilet/wc/jamban di pondokan/hotel.
  8. Kurangi kegiatan yang tidak perlu dan banyak menguras tenaga.
  9. Tidak merokok.
  10. Minum obat secara teratur sesuai jadwal bagi penderita penyakit tertentu seperti jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi atau asma.
Periksakan ke dokter sebelum melakukan perjalanan. Apalagi bila Anda mengidap penyakit kronik seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan lain-lain, yang membutuhkan obat-obatan teratur.
Etika batuk. Tonton video dari Kominfo dan Kemenkes berikut, jelas dan menghibur.



Laporkan. Segera laporkan petugas kesehatan saat mengalami batuk, demam, sesak nafas. Gejala-gejala tersebut memang mirip seperti penyakit avian influenza maupun flu H1N1. Namun tetapi, penanganan secepatnya terhadap gejala-gejala penyakit tersebut adalah penting bagi kesembuhan Anda.

Tetap terinformasi. Secara proaktif terus mencari informasi mengenai perkembangan kasus dan untuk memperoleh himbauan pemerintah mengenai penyakit MERS CoV. Berikut ini situs-situs penyedia informasi terkini mengenai MERS CoV:
  1. Update dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai Coronavirus
  2. Blog "MERS Watch"
  3. CIDRAP - Center for Infectious Disease Research and Policy
  4. Situs-situs berita online Indonesia terkemuka juga dapat kita ikuti.
Demikian kami sampaikan tips mencegah penyakit MERS CoV. Semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat.



Apresiasi untuk www.harianterbit.com dan Sira Anamwong / FreeDigitalPhotos.net

Sekilas Tentang Penyakit MERS



Penyakit MERS atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS‐CoV) ada sejak tahun 2012. Dari data yang kami dapatkan sudah ada 254 kasus terkonfirmasi dengan 93 kematian. Dari keseluruhan kasus, yang terbanyak berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Sisanya dari negara-negara seperti Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Inggris, Tunisia, Malaysia dan Filipina. Dari negara kita sudah ada pula korban jiwa, namun tercatat meninggal di Saudi Arabia.

Analisa Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sebagian besar kasus yang terjadi melalui penularan antar manusia dan mengenai adanya penularan antara hewan ke manusia masih dalam penyelidikan.

Gejala MERS


Gejala MERS adalah seperti flu, infeksi pernapasan dan paru, batuk, demam, sesak napas dan pneumonia. Walaupun gejala-gejala tersebut adalah umum, namun, penting bagi pasien untuk cepat melaporkan kepada petugas kesehatan dan memperoleh perawatan terlebih setelah bepergian dari negara-negara Timur Tengah.

Waspada dan Pencegahan


Tindakan yang sangat penting dilakukan untuk mencegah penyebaran MERS yaitu meningkatkan kewaspadaan para petugas kesehatan, antara lain:
  1. Memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyediakan perawatan untuk pasien yang diduga atau dikonfirmasi terinfeksi MERS.
  2. Mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi risiko penularan virus dari pasien yang terinfeksi kepada pasien lain, petugas kesehatan dan pengunjung.
  3. Melaksanakan standar prosedur operasional yang konsisten dalam penanganan pasien yang memiliki gejala ringan atau gejala khusus MERS.
  4. Melakukan pengawasan dini dan monitoring pada mobilitas manusia yang bepergian ke negara-negara yang terkonfirmasi MERS.
  5. Terus mensosialisasikan tentang penyakit MERS dan pencegahannya kepada masyarakat secara umum dan kepada orang-orang yang akan bepergian ke negara-negara berisiko seperti jemaah haji dan para pekerja luar negeri.

Pandemi Flu 1918 Berasal dari China

Grafis Asal Pandemi Flu 1918 (Sumber: National Geographic)

Sebuah artikel menarik dari National Geographic yang menjelaskan tentang sumber wabah (pandemi) flu terbesar di dunia yang terjadi pada tahun 1918 mungkin saja berasal dari China. Adalah sejarawan asal Kanada bernama Mark Humphries yang melakukan penelitian terhadap catatan-catatan sipil dan medis.
The deadly "Spanish flu" claimed more lives than World War I, which ended the same year the pandemic struck. Now, new research is placing the flu's emergence in a forgotten episode of World War I: the shipment of Chinese laborers across Canada in sealed train cars.
Keterlibatan sekutu (Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, dll) pada Perang Dunia I menimbulkan kebutuhan yang besar akan tenaga kerja. Disaat para pemuda menjadi relawan membela negaranya, sektor-sektor pendukung seperti pabrik-pabrik senjata, transportasi, dsb tetap membutuhkan pekerja terampil. Karena itulah negara-negara sekutu mengambil ribuan tenaga kerja dari China.

Selain dari itu disebutkan pula bahwa ada catatan mengenai wabah flu terjadi di China sebelum tahun 1918.
In the new report, Humphries finds archival evidence that a respiratory illness that struck northern China in November 1917 was identified a year later by Chinese health officials as identical to the Spanish flu. 
He also found medical records indicating that more than 3,000 of the 25,000 Chinese Labor Corps workers who were transported across Canada en route to Europe starting in 1917 ended up in medical quarantine, many with flu-like symptoms.
Sehingga ketika wabah tersebut terjadi di Eropa dan Amerika, para imigran China sedikit yang menjadi korban. Ini karena mereka dirasa telah "kebal" daripada para warga Eropa dan Amerika belum memiliki ketahanan dari flu tersebut.

Kita dapat memetik pelajaran berharga dari sejarah ini. Mengantisipasi mobilitas manusia yang saat ini semakin sulit diawasi dan jangan sampai sejarah berulang lagi seperti pada wabah SARS dan flu H1N1.

Flu Burung Kembali, Kami Kembali

Flu burung di Jepang (Sumber: Kyodo News)

Berita mengejutkan datang dari Jepang. Negara maju tersebut mendapatkan kasus flu burung pertamanya sejak tahun 2011 seminggu yang lalu.

Sebenarnya bila mengikuti pemberitaan, maka sejak tahun lalu pun, banyak pula berita tentang munculnya wabah flu burung diantaranya di Vietnam, Thailand dan di negara kita. Namun, kali ini cukup "membangunkan" saya. Karena wabah ini muncul di negara yang menurut saya terkenal tentang keamanan pangannya. Dan bila flu burung muncul di Jepang, saya sangat khawatir dapat pula muncul di negara-negara lain.

Benar adanya, kemarin saya menemukan berita baru bahwa flu burung telah masuk ke Korea Utara. Virus H5N1 tersebut telah menyebabkan kematian sebanyak 46.000 ayam di dua peternakan.

Dua kasus besar di negara-negara yang saya kira akan "aman" terhadap bencana biologis ini. Agar para aparat peternakan kita waspada. Melakukan langkah-langkah seperti pengawasan lalu lintas transportasi dan perdagangan unggas serta screening ketat. Sebuah tugas yang berat mengingat luasnya negara kita, tetapi akan sangat berarti mengingat banyaknya kerugian 8 tahun yang lalu.

Press Release: Anti-bird flu campaign must go on: Komnas FBPI

Jakarta, March 10, 2010, Komnas FBPI – At the end of his tenure, the
Indonesian bird flu coordinating agency urges that the fight against
avian influenza and pandemic response should continue even without its
presence.

The National Committee for Avian Influenza Control and Pandemic
Influenza Preparedness (Komnas FBPI) ends its mandate in March 13,
2010, as stipulated by the 2006 Presidential Regulation on the
establishment of Komnas FBPI.

Komnas FBPI insist that all Indonesians, and those who live in the
country, must remain active in curbing bird flu and responding to the
H1N1 pandemic influenza.

'The story of Komnas FBPI from 2006 to 2010 is the tale about the
dedications of government, private sector, experts, international
partners, and community members in dealing with an infectious disease.
This is the most important lesson for taking actions on any infectious
disease in the future, "said Komnas FBPI Chief Executive Bayu
Krisnamurthi.

On the occasion of National Coordination Meeting on the Handling of
Bird Flu and Pandemic Influenza 2006-2010, Komnas FBPI states that
Indonesia has managed to control the wide spread of H5N1 in Indonesia
and responding to pandemic influenza H1N1. Although already under
control, bird flu virus remains exist and may infect people at any
time.

"The key is we must be able to fight the virus, live healthy and know
how to protect ourselves," he added.

Deputy Chief Executive of Emil Agustiono, adds that the strength built
by the commission would be useful to face any environmental and health
crisis in the future.

Emil explained that the current spread of emerging and reemerging
infectious diseases (EREID's) such as HIV/AIDS, SARS, nipah, rabies,
BSE, West Nile, Ebola, Rift Valley Fever, and anthrax.

"We need to maximize the capital that we have had and still manage to
be an asset to any health disaster in the future."

To support the continuation of the campaign, the national coordinating
meeting recommends that: first, the war against bird flu still needs
to be continued along with fight toward other zoonoses. Therefore,
there is a need to set up the National Committee for Zoonoses Control
(Komnas Zoonosis).

Second, all works of pandemic influenza preparedness and response,
should be taken over by the National Disaster Management Agency
(BNPB).

And lastly, continue promoting the ideas and systematic approach to an
integrated health system, that merge human health, animal health and
environmental health by involving experts from various fields of
science, including social sciences.

National Coordination Meeting was attended by 300 representatives from
ministries and central government agencies, local governments,
international organizations, social organizations and institutions.

Komnas FBPI extends its appreciation to all experts and government
officials who have dedicated themselves in the fight against avian
influenza and pandemic influenza response; the international partners
who work together to build the capacity of response, surveillance and
early detection; the members of the media who help spread prevention
messages and in particular, to the people of Indonesia, who have taken
the initiatives to make Indonesia safer and healthier.

Tanggap Flu Burung!

Take Action Against Bird Flu, Our Hands Prevent Bird Flu!
Be Flu Wise and Flu Care!

Press Release: Perang Melawan Flu Burung Tak Boleh Berakhir: Komnas FBPI

Perang Melawan Flu Burung Tak Boleh Berakhir: Komnas FBPI

Jakarta, 10 Maret 2010, Komnas FBPI – Di penghujung masa tugasnya, Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) menegaskan bahwa peperangan melawan avian influenza (flu burung) dan merespon pandemi tidak boleh berakhir.

Seluruh komponen bangsa, terutama masyarakat harus tetap aktif dalam penanganan flu burung dan respon pandemi influenza, dengan atau tanpa Komnas FBPI.

”Perjalanan Komnas FBPI selama 2006-2010 adalah perjalanan semua lapisan—pemerintah, swasta, para ahli, mitra internasional, dan masyarakat—menangani penyakit menular dengan secara bersama-sama dan dimana-mana. Hal ini adalah pelajaran terpenting bagi penanganan penyakit menular apapun di masa depan,” ujar Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI Bayu Krisnamurthi.

Pada kesempatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Penanganan Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza 2006-2010, Komnas FBPI menyatakankerjasama erat selama ini telah membuahkan hasil: terkendalinya penyebaran virus H5N1 di Indonesia dan merespon pandemi influenza H1N1. Walaupun sudah terkendali, virus flu burung tetap ada di lingkungan kita dan dapat merebak lagi sewaktu-waktu.

”Kampanye Tanggap Flu Burung sudah menyebarkan pesan pencegahan ke lebih dari 90 persen penduduk Indonesia. Maka dari itu kita harus dapat melawan virus tersebut, hidup sehat dan tahu cara melindungi diri,” tambahnya.

Dalam mandat kerja empat tahunnya, Komnas FBPI telah menjadi lembaga koordinasi yang mewadahi perdebatan, perbedaan pendekatan, serta pembangunan kapasitas semua orang dan institusi yang terjun aktif mengendalikan flu burung dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi pandemi.

Wakil Ketua Pelaksana Harian Komnas FBPI Emil Agustiono menambahkan bahwa kekuatan yang dibangun Komnas adalah modal besar menghadapi krisis kesehatan dan lingkungan di masa depan.

Emil menjelaskan bahwa saat ini merebak emerging and re-emerging infectious diseases (EREID’s) seperti: HIV/AIDS, SARS, Nipah, Rabies, BSE, West Nile, Ebola, Rift Valley Fever, dan Antrax.

”Tujuh puluh persen penyakit bersumber dari hewan, bersifat lintas batas, dan umumnya berdampak luas,” tambah Emil.

”Kita perlu memaksimalkan modal yang sudah kita punya dan tetap mengelolanya agar menjadi aset bagi penanganan bencana kesehatan apapun di masa yang akan datang.”

Hasil Rakornas Komnas FBPI merekomendasikan agar: pertama, Penanganan Flu Burung tetap perlu dilanjutkan bersama dengan pengendalian zoonosis lainnya secara keseluruhan. Untuk itu, perlu dibentuk Komite Nasional Zoonosis (Komnas Zoonosis) melalui Peraturan Presiden, sebagai suatu badan yang berada di Kementerian Pertanian dengan operasionalisasi tugas tetap berkoordinasi dengan kementerian-kementerian terkait khususnya yang berada dalam koordinasi Kementerian Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Kedua, melanjutkan tugas-tugas Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza, diusulkan agar tugas tersebut berada dalam tanggung jawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang juga dalam koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Dan terakhir, perlu dipromosikan pemikiran-pemikiran dan pendekatan sistim
kesehatan terpadu diikuti langkah-langkah konkrit yang mengintegrasikan pemahaman atas saling keterkaitan antara kesehatan manusia – kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan dengan mengikutsertakan para ahli dari berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu sosial dan lingkungan hidup.

Rakornas dihadiri 300 orang perwakilan dari kementerian dan instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional, organisasi kemasyarakatan dan lembaga.

Setelah empat tahun berdirinya Komnas FBPI yang bertugas mengkoordinasikan kegiatan pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan flu burung (avian influenza) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza, sesuai Peraturan Presiden No.7/2006 tentang Komnas FBPI., komite berkhir masa tugasnya pada tanggal 13 Maret 2010.

Komnas FBPI mengucapkan apresiasi yang setinggi-setingginya bagi para ahli dan aparat yang mendedikasikan dirinya dalam perjuangan melawan flu burung dan merespon pandemi influenza, kepada mitra internasional yang bekerjasama membangun kapasitas respon, surveilans dan deteksi dini, kepada media yang menyabarluaskan pesan-pesan pencegahan dan terutama sekali, kepada masyarakat Indonesia yang telah tanggap terhadap bahaya ancaman penyakit menular.

Tanggap Flu Burung! Tangan Kita Pencegah Flu Burung! dan Ambil Tindakan TEPAT (Tenang, PAhami, dan Tanggap)

Newsletter 3 Maret 2010










Photo

Spring break revelers dance at the beach in the resort city of Cancun, Mexico Monday March 1, 2010. Cancun, Mexico's spring break king, is rebounding quickly from last year's triple blow to its tourism industry caused by the country's swine flu epidemic, drug violence and a global economic crisis. (AP Photo/Israel Leal)

Read more: http://news.yahoo.com/nphotos/H1N1-Virus/ss/events/hl/042409swineflu/im:/100302/2681/919abf5233ba448d950305dcec997703

New Issue

Social Stress May Enhance The Immune Response To Influenza Virus

(PhysOrg.com) -- A new study using mice suggests that a repeated stressful situation that triggers the animals' natural “fight-or-flight” response may actually enhance their ability to fight disease when re-exposed to the same pathogen.

The study showed that the stressed mice had a 10-fold increase in their resistance to an influenza infection, and that this protection lasted at least up to three months after the stressful episodes.

While appearing to clash with years of findings that showed stressful situations can lower an individual’s immune response, the new work actually does not. Instead, it offers new insight into the fine balance the immune system maintains to protect against disease.

The report, carried in the current issue of the Journal of Immunology, describes new work emerging from Ohio State University’s Institute for Behavioral Medicine Research.

“Not all stress suppresses the immune system,” explained John Sheridan, professor of oral biology and associate director of the IBMR. “Some stressors actually give rise to enhanced immune responses.” […]

Read more: http://www.physorg.com/news186695836.html

Research

Administration Of Influenza Vaccine To The Egg Allergic Child Under 36 Months

RATIONALE: To determine which population of egg allergic children (EAC) can safely receive the influenza vaccine (INF), and how to optimize testing and administration.

METHODS: A retrospective chart review from 10/2004 to 1/2009 of EAC ages 6-36 months seen in Allergy Clinic during influenza immunizationseason (10/1-2/28). EAC were identified with positive skin (ST) or RAST test to egg. EAC who did or did not receive INF or INF testing were evaluated.

Adverse events after INF were compared to a non-EAC control group of our patients given INF. We reviewed likelihood of receiving full testing (prick and intradermal (ID)), graded vaccine, or full vaccine to determine the best protocol.

RESULTS: 140 EAC were tested for INF and 53 EAC were not tested. Morbidities of asthma and anaphylaxis were no different in the 2 groups (p>.3). Likelihood of receiving ID prior to INF decreased over time from 100%-2% (p<.0001). Likelihood of receiving full INF vs graded INF increased with repeat dosing, 65%-87.5% (p<.0024).

5/140 tested EAC did not receive INF after positive STor ID to INF (3 with anaphylaxis), but 14/17 EAC with anaphylaxis received INF (2 with positive ST to flu, 9 negative, 3 not-performed). 135/140 received INF without significant complications (equivalent to non-EAC). 28/135 EAC were safely given INF without prior ST.

CONCLUSIONS: 96% of skin tested EAC safely received INF (76% ST negative, 23% ST positive); and 21% who received INF had no prior ST. 70% of all EAC received INF. EAC can safely receive INF. […]

Read more: http://www.jacionline.org/webfiles/images/journals/ymai/Abstracts_Saturday_1-64.pdf

Comment

Everyone in U.S. should get flu vaccine: experts

By Maggie Fox, Health and Science Editor

WASHINGTON (Reuters) - Everyone in the United States over the age of six months should get seasonal influenza vaccines every year, federal vaccine advisers said on Wednesday.

The Advisory Committee on Immunization Practices made the long-awaited vote to recommend virtually universal flu vaccination -- something public health experts have long recommended.

"The new recommendation seeks to remove barriers to influenza immunization and signals the importance of preventing influenza across the entire population," the U.S. Centers for Disease Control and Prevention said in a statement.

Read more: http://uk.reuters.com/article/idUKN2419902520100225

Quote

"If they want to base it on good evidence, they should wash their hands. I would also encourage them to write to their Congressman or Senator, asking them to put pressure on the U.S. government to run a proper trial and get an answer to whether these vaccines actually work." Tom Jefferson, epidemiologist, Cochrane Collaboration.

Read more: http://news.yahoo.com/s/time/20100301/hl_time/08599196730600

News Flash

Malaysia confirms first swine flu death this year

KUALA LUMPUR — Malaysia's government has confirmed the country's first death linked to swine flu in nearly half a year.Health Minister Liow Tiong Lai says the 22-year-old woman died of respiratory...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/malaysia-confirms-first-swine-flu-death.html

Mum dies of swine flu after birth of son

A young mum died from swine flu just weeks after giving birth to her son. Allison McCaffery, 26, developed flu symptoms during pregnancy which worsened following the birth of baby boy Jacob by...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/mum-dies-of-swine-flu-after-birth-of.html

New inhaled drug protects from flu in single dose

Reuters

The now-waning pandemic of H1N1 influenza sparked new interest in the development of better drugs to fight flu, which kills 250000 to 500000 people globally ...

Read more: http://news.google.com/news/url?fd=R&sa=T&url=http%3A%2F%2Fwww.reuters.com%2Farticle%2FidUSN2523296420100226%3Ftype%3DmarketsNews&usg=AFQjCNEyc0sOOEqGZa9ExKGiM4DUThvHQw

A/H1N1 passes peak in flu season: Health Ministry

Xinhua

The A/H1N1 influenza outbreak, which has killed nearly 800 people on the Chinese mainland, has passed its peak in the autumn-winter flu season, the Ministry of Health said Tuesday.

Read more: http://english.people.com.cn/90001/90776/90882/6906801.html?

Disclaimer: Newsletter ini hanya merupakan kumpulan dari artikel/liputan/tulisan yang diambil dari berbagai sumber mengenai situasi terkini pandemi influenza di seluruh dunia termasuk Indonesia. Namun demikian isi/ilustrasi/foto tidak mewakili kepentingan atau kebijakan KOMNAS FBPI secara langsung

Newsletter 3 Maret 2010

New Issue

Social Stress May Enhance The Immune Response To Influenza Virus 

(PhysOrg.com) -- A new study using mice suggests that a repeated stressful situation that triggers the animals' natural “fight-or-flight” response may actually enhance their ability to fight disease when re-exposed to the same pathogen. 

The study showed that the stressed mice had a 10-fold increase in their resistance to an influenza infection, and that this protection lasted at least up to three months after the stressful episodes. 

While appearing to clash with years of findings that showed stressful situations can lower an individual’s immune response, the new work actually does not. Instead, it offers new insight into the fine balance the immune system maintains to protect against disease. 

The report, carried in the current issue of the Journal of Immunology, describes new work emerging from Ohio State University’s Institute for Behavioral Medicine Research. 

“Not all stress suppresses the immune system,” explained John Sheridan, professor of oral biology and associate director of the IBMR. “Some stressors actually give rise to enhanced immune responses.” […] 

Read more: http://www.physorg.com/news186695836.html


Research

Administration Of Influenza Vaccine To The Egg Allergic Child Under 36 Months 

RATIONALE: To determine which population of egg allergic children (EAC) can safely receive the influenza vaccine (INF), and how to optimize testing and administration. 

METHODS: A retrospective chart review from 10/2004 to 1/2009 of EAC ages 6-36 months seen in Allergy Clinic during influenza immunizationseason (10/1-2/28). EAC were identified with positive skin (ST) or RAST test to egg. EAC who did or did not receive INF or INF testing were evaluated. 

Adverse events after INF were compared to a non-EAC control group of our patients given INF. We reviewed likelihood of receiving full testing (prick and intradermal (ID)), graded vaccine, or full vaccine to determine the best protocol. 

RESULTS: 140 EAC were tested for INF and 53 EAC were not tested. Morbidities of asthma and anaphylaxis were no different in the 2 groups (p>.3). Likelihood of receiving ID prior to INF decreased over time from 100%-2% (p<.0001). Likelihood of receiving full INF vs graded INF increased with repeat dosing, 65%-87.5% (p<.0024). 

5/140 tested EAC did not receive INF after positive STor ID to INF (3 with anaphylaxis), but 14/17 EAC with anaphylaxis received INF (2 with positive ST to flu, 9 negative, 3 not-performed). 135/140 received INF without significant complications (equivalent to non-EAC). 28/135 EAC were safely given INF without prior ST. 

CONCLUSIONS: 96% of skin tested EAC safely received INF (76% ST negative, 23% ST positive); and 21% who received INF had no prior ST. 70% of all EAC received INF. EAC can safely receive INF. […]

Read more: http://www.jacionline.org/webfiles/images/journals/ymai/Abstracts_Saturday_1-64.pdf


Comment

Everyone in U.S. should get flu vaccine: experts

By Maggie Fox, Health and Science Editor

WASHINGTON (Reuters) - Everyone in the United States over the age of six months should get seasonal influenza vaccines every year, federal vaccine advisers said on Wednesday.

The Advisory Committee on Immunization Practices made the long-awaited vote to recommend virtually universal flu vaccination -- something public health experts have long recommended.

"The new recommendation seeks to remove barriers to influenza immunization and signals the importance of preventing influenza across the entire population," the U.S. Centers for Disease Control and Prevention said in a statement.

Read more: http://uk.reuters.com/article/idUKN2419902520100225


Photo

Spring break revelers dance at the beach in the resort city of Cancun, Mexico Monday March 1, 2010. Cancun, Mexico's spring break king, is rebounding quickly from last year's triple blow to its tourism industry caused by the country's swine flu epidemic, drug violence and a global economic crisis. (AP Photo/Israel Leal)

Read more: http://news.yahoo.com/nphotos/H1N1-Virus/ss/events/hl/042409swineflu/im:/100302/2681/919abf5233ba448d950305dcec997703


Quote

"If they want to base it on good evidence, they should wash their hands. I would also encourage them to write to their Congressman or Senator, asking them to put pressure on the U.S. government to run a proper trial and get an answer to whether these vaccines actually work."  Tom Jefferson, epidemiologist, Cochrane Collaboration.

Read more: http://news.yahoo.com/s/time/20100301/hl_time/08599196730600


News Flash

Malaysia confirms first swine flu death this year 

KUALA LUMPUR — Malaysia's government has confirmed the country's first death linked to swine flu in nearly half a year.Health Minister Liow Tiong Lai says the 22-year-old woman died of respiratory...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/malaysia-confirms-first-swine-flu-death.html


Mum dies of swine flu after birth of son

A young mum died from swine flu just weeks after giving birth to her son. Allison McCaffery, 26, developed flu symptoms during pregnancy which worsened following the birth of baby boy Jacob by...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/mum-dies-of-swine-flu-after-birth-of.html


New inhaled drug protects from flu in single dose

Reuters

The now-waning pandemic of H1N1 influenza sparked new interest in the development of better drugs to fight flu, which kills 250000 to 500000 people globally ...

Read more: http://news.google.com/news/url?fd=R&sa=T&url=http%3A%2F%2Fwww.reuters.com%2Farticle%2FidUSN2523296420100226%3Ftype%3DmarketsNews&usg=AFQjCNEyc0sOOEqGZa9ExKGiM4DUThvHQw


A/H1N1 passes peak in flu season: Health Ministry

Xinhua

The A/H1N1 influenza outbreak, which has killed nearly 800 people on the Chinese mainland, has passed its peak in the autumn-winter flu season, the Ministry of Health said Tuesday.

Read more: http://english.people.com.cn/90001/90776/90882/6906801.html?


Disclaimer: Newsletter ini hanya merupakan kumpulan dari artikel/liputan/tulisan yang diambil dari berbagai sumber mengenai situasi terkini pandemi influenza di seluruh dunia termasuk Indonesia. Namun demikian isi/ilustrasi/foto tidak mewakili kepentingan atau kebijakan KOMNAS FBPI secara langsung 


Newsletter 3 Maret 2010

New Issue

Social Stress May Enhance The Immune Response To Influenza Virus 

(PhysOrg.com) -- A new study using mice suggests that a repeated stressful situation that triggers the animals' natural “fight-or-flight” response may actually enhance their ability to fight disease when re-exposed to the same pathogen. 

The study showed that the stressed mice had a 10-fold increase in their resistance to an influenza infection, and that this protection lasted at least up to three months after the stressful episodes. 

While appearing to clash with years of findings that showed stressful situations can lower an individual’s immune response, the new work actually does not. Instead, it offers new insight into the fine balance the immune system maintains to protect against disease. 

The report, carried in the current issue of the Journal of Immunology, describes new work emerging from Ohio State University’s Institute for Behavioral Medicine Research. 

“Not all stress suppresses the immune system,” explained John Sheridan, professor of oral biology and associate director of the IBMR. “Some stressors actually give rise to enhanced immune responses.” […] 

Read more: http://www.physorg.com/news186695836.html


Research

Administration Of Influenza Vaccine To The Egg Allergic Child Under 36 Months 

RATIONALE: To determine which population of egg allergic children (EAC) can safely receive the influenza vaccine (INF), and how to optimize testing and administration. 

METHODS: A retrospective chart review from 10/2004 to 1/2009 of EAC ages 6-36 months seen in Allergy Clinic during influenza immunizationseason (10/1-2/28). EAC were identified with positive skin (ST) or RAST test to egg. EAC who did or did not receive INF or INF testing were evaluated. 

Adverse events after INF were compared to a non-EAC control group of our patients given INF. We reviewed likelihood of receiving full testing (prick and intradermal (ID)), graded vaccine, or full vaccine to determine the best protocol. 

RESULTS: 140 EAC were tested for INF and 53 EAC were not tested. Morbidities of asthma and anaphylaxis were no different in the 2 groups (p>.3). Likelihood of receiving ID prior to INF decreased over time from 100%-2% (p<.0001). Likelihood of receiving full INF vs graded INF increased with repeat dosing, 65%-87.5% (p<.0024). 

5/140 tested EAC did not receive INF after positive STor ID to INF (3 with anaphylaxis), but 14/17 EAC with anaphylaxis received INF (2 with positive ST to flu, 9 negative, 3 not-performed). 135/140 received INF without significant complications (equivalent to non-EAC). 28/135 EAC were safely given INF without prior ST. 

CONCLUSIONS: 96% of skin tested EAC safely received INF (76% ST negative, 23% ST positive); and 21% who received INF had no prior ST. 70% of all EAC received INF. EAC can safely receive INF. […]

Read more: http://www.jacionline.org/webfiles/images/journals/ymai/Abstracts_Saturday_1-64.pdf


Comment

Everyone in U.S. should get flu vaccine: experts

By Maggie Fox, Health and Science Editor

WASHINGTON (Reuters) - Everyone in the United States over the age of six months should get seasonal influenza vaccines every year, federal vaccine advisers said on Wednesday.

The Advisory Committee on Immunization Practices made the long-awaited vote to recommend virtually universal flu vaccination -- something public health experts have long recommended.

"The new recommendation seeks to remove barriers to influenza immunization and signals the importance of preventing influenza across the entire population," the U.S. Centers for Disease Control and Prevention said in a statement.

Read more: http://uk.reuters.com/article/idUKN2419902520100225


Photo

Spring break revelers dance at the beach in the resort city of Cancun, Mexico Monday March 1, 2010. Cancun, Mexico's spring break king, is rebounding quickly from last year's triple blow to its tourism industry caused by the country's swine flu epidemic, drug violence and a global economic crisis. (AP Photo/Israel Leal)

Read more: http://news.yahoo.com/nphotos/H1N1-Virus/ss/events/hl/042409swineflu/im:/100302/2681/919abf5233ba448d950305dcec997703


Quote

"If they want to base it on good evidence, they should wash their hands. I would also encourage them to write to their Congressman or Senator, asking them to put pressure on the U.S. government to run a proper trial and get an answer to whether these vaccines actually work."  Tom Jefferson, epidemiologist, Cochrane Collaboration.

Read more: http://news.yahoo.com/s/time/20100301/hl_time/08599196730600


News Flash

Malaysia confirms first swine flu death this year 

KUALA LUMPUR — Malaysia's government has confirmed the country's first death linked to swine flu in nearly half a year.Health Minister Liow Tiong Lai says the 22-year-old woman died of respiratory...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/malaysia-confirms-first-swine-flu-death.html


Mum dies of swine flu after birth of son

A young mum died from swine flu just weeks after giving birth to her son. Allison McCaffery, 26, developed flu symptoms during pregnancy which worsened following the birth of baby boy Jacob by...

Read more: http://www.dowell-netherlands.com/2010/03/mum-dies-of-swine-flu-after-birth-of.html


New inhaled drug protects from flu in single dose

Reuters

The now-waning pandemic of H1N1 influenza sparked new interest in the development of better drugs to fight flu, which kills 250000 to 500000 people globally ...

Read more: http://news.google.com/news/url?fd=R&sa=T&url=http%3A%2F%2Fwww.reuters.com%2Farticle%2FidUSN2523296420100226%3Ftype%3DmarketsNews&usg=AFQjCNEyc0sOOEqGZa9ExKGiM4DUThvHQw


A/H1N1 passes peak in flu season: Health Ministry

Xinhua

The A/H1N1 influenza outbreak, which has killed nearly 800 people on the Chinese mainland, has passed its peak in the autumn-winter flu season, the Ministry of Health said Tuesday.

Read more: http://english.people.com.cn/90001/90776/90882/6906801.html?


Disclaimer: Newsletter ini hanya merupakan kumpulan dari artikel/liputan/tulisan yang diambil dari berbagai sumber mengenai situasi terkini pandemi influenza di seluruh dunia termasuk Indonesia. Namun demikian isi/ilustrasi/foto tidak mewakili kepentingan atau kebijakan KOMNAS FBPI secara langsung